Kamis, 15 Juni 2023

Riwayat Ayahku (Brookdjaja)

Brookdjaja ikut orangtua (ayahnya) Raden Songo dari Kalimantan Timur Bandjarmasin pindah ke daerah pedalaman Kalimantan Barat, Melawi Ulu.

Brookdjaja mempunyai istri 5 orang, istri yang pertama nama Kapas binti Ambauw, istri kedua nama Endens binti Pangeran Puraij, istri ketiga nama Taijpah binti Tjihung. Ayah (Brooksdjaja) kawin buakn dimadu melainkan kawin satu-satu karena bercerai waktu mati (meninggal dunia). Ayah menjadi Budju (duda) didalam beberapa tahun kemuadian ayahpun kawin ibu baru (yang kedua) nama Endens binti Pangeran Puraij.

Hasil perkawinan ayah dan ibu enden (istri yang kedua) mendapatkan anak 5 orang yaitu nama Taijah (Inoilotah perempuan nomor 2 Manjong nomor 3 Saman Laki nomor 4 Ponjong perempuan nomor 5 Muhammad Hasan B lelaki.

Aku dilahirkan menurut orang-orang dan saudaraku yang tua pada 15 Januari 1912, setelah aku berumur 3 hari, ibuku endenpun kena serangan penyakit cika (muntah berak) terus meninggal dunia, aku adalah anak yang paling bungsu (terakhir) dari hasil perkawinan ayahku Brookdjaja dengan ibuku Enden tadi.

Berarti ibuku Endens meninggal dunia karena melahirkan daku, Betapa sedih dan pilunya aku ditinggalkan ibuku, mengapa aku tidak dibawa pulang sekaligus tempat alam baka kembali asal untuk selama-lamanyabersama ibuku itu.

Kini aku hidup diasuhi oleh saudara-saudaraku dalam neraka dunia alam cuaca gelap gilita dari umur 3 hari sampai 3 bulan (90 hari) yang kakakku mengasuh atau menghuni kami berempat, setiap waktu detik siang dan malam tidak mengenal jerih payah untuk mengawasi kami beradik.

Nyata dan terasa jerih payah pahit getir neraka dunia alam terbuka pendekkan kata hidup menderita dan sengsara tak dapatlah dikesahkan. Kakak kami nama Taijah Talah) waktu itu sedang berumur 9 atau 10 tahun sambil mengasuh kami adik-adiknya turut juga menghuni ladang gunung kami yang ajuhnya dari rumah betang kira-kira perjalanan 1 1/2 jam baru sampai di pondok ladang kami dan aku digendong kakakku ke ladang. Kisah orang-orang kalau kakak turun kerja di ladang aku digantungkan ayunan di tengah-tengah ladang. Makananku waktu itu kakakku buat dari nasi ditumbuk halus-halus campur gula tebu dan dibungkusnya dengan daun pisang di pais dan disalai dipasang api.

Bilamana aku diberi makan dengan nasi pirik diatur olehnya 1 pais sehari makan 3 (4 kali sehari), selain dari nasi pirik, kami ada pelihara 3 ekor anjing yang amat sidik dan setia dengan tuan rumahnya yaitu nomor 1 nama Njanpun, nomor 2 nama Bura dan nomor 3 nama Tukan. Nyanpun dan Bura keduanya lelaki yang sangat bijaksana (matang) dan sangat cerdasnya, anjing kami bernama Tukan (anjing perempuan) sedang beranak juga 2 ekor anaknya serta keduanya sangat sehatnya. Melihat keadaan anak anjing sangat subu8rnya, kakak saya Taijah Tatah berfikir sekejap lalu dia periksa induk anjing (si Tukan) tadi tengah-tengah menyusukan kedua anaknya itu, lantas susu anjing kami nama Tukan tadi diperasnya masuk ke dalam botol yang sedang besarnya disumbat dengan pelaik yang lembut, pelaik diberi lubang halus-halus terus botol berisi susu anjing kami dipanaskan sedang (panas kuku) barulah dikasikkan padaku minum susu itu 3 kali sekali aku dikasih minum susu anjing kami, hingga badanku makin bertambah pula suburnya dan seterusnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Part 6

Keesokan harinya akupun mulai belajar menjadi kusir bawa 2 ekor kuda yang menarik gerobak itu berkeliling kota seluruh ........... jalan di ...