Jumat, 23 Mei 2025

Part 6

Keesokan harinya akupun mulai belajar menjadi kusir bawa 2 ekor kuda yang menarik gerobak itu berkeliling kota seluruh ........... jalan di ........ maunya sampai hari yang ketiga kami berdua Paderedja pun mulai belanja untuk muat isi 2 buah gerobak hingga penuh a. bahan bakar, b. bahan makanan, c. bahan pakaian dan sebagainya.

Alkesah berangkat kami berdua pergi jalan mampang bermalam 2 hari 2 malam kembali .... selemba utan diam 3 hari di rumah sambil mengisi gerobak sampai muatan selesai, berangkat lagi menuju Petamburan Tanabang Paal Merah sama satu desa dan disitu berdiri satu rumah sekolah SD sampai kelas VI penghuninya hanya 2 orang guru yang mengajar. Guru kepalanya nama Raden Ruardja rupanya guru kepala sekolah ini adalah kakaknya si Pa' Deredja tukang kuda, menginap dirumah guru kepala tadi kami berdua 3 malamsambil bongkar perdagangan dalam gerobak sambil memuat sayuran dan buah-buahan bermacam hasil tanaman rakyat ..... untuk dijual di Kota Jakarta. Jarak Jauhnya perjalanan dari Jakarta ke Petamburan Paal Merah sekitar 18 kabupaten. Kami berduapun segera kembali ke Kota Selemba Utan segera menjualkan sayuran dan buah-buahan tadi sampai bersih dibeli orang. Keuntungan Pa' Deredja 2 x ... yang aku ikut katanya luar biasa orang-orang berebut membeli 7 hari kami berdua ..... di rumah Pa Deredja berniat akan bawa aku ke Kota Bogor (........... ) untuk pelesir dan sambil melihat........ tempat 3 orang adiknya diam di Kota Bogor. Berangkat kami berdua dari Jakarta ke Bogor dengan Kereta Api sampai disana bermalam ditempat adiknya laki-laki di Cewa ringin tengah dijadi tukang arang dan saudara yang kedua menjadi tukang Dabbi saudaranya yang ketiga menjadi tukang es, ketiganya saudaranya yang di Bogor tidak mempunyai anak.

7 hari kami berdua diam dirumah saudaranya 3 orang di Bogor. Aku ditanya dengan Pa' Deredja berhadapan dengan tiga saudaranya yang mana atas pertanyaan tadi adalah sebagai tersebut, Anak mau tidak tinggal dengan bapak dan ibu saudaraku bertiga di Kota Bogor? kata Pa' Deredja padaku aku diam ....... laki Pa' Deredjapun jawab diri sendiri kata dia masih sayang padaku, tapi apa boleh buat karena yang minta adalah adik aku kata Pa' Deredja.

Aku menjawab sebagai berikut, sebenarnya pak saya masih banyak ingin bicarakan di... depan bapak yang belum saya laksanakan pada bapak, karena saya melihat bapak masih sibuk sekali urusannya, susunan penghidupan kita kalau boleh saya ingin menyampaikan rencana cita-cita saya sekarang ini yaitu katakan berterus terang saja dihadapan ibu bapak karena saya ini tidak ada ibu bapak lagi saya adalah anak yatim piatu bahwa orangtua saya sudah habis meninggal dunia semuanya tinggal kami 5 beradik diantaranya sayalah anak yang paling bungsu dan hidup dikampung bersama dengan empat orang keluarga saya dalam keadaan sengsara setiap hari dibenci oleh saudara-saudaraku keempatnya kadang kali saya diusir suruh lari.

Kemuadian aku lari dari kampung halaman kami untuk membawa nasib hidup (mati) hingga sampailah yang maha tau membantu nasib sayangembara kemana-mana saya sampai nasib saya begini terhampar di Pulau Jawa tempat ibu dan bapak ini.


Senin, 13 Mei 2024

Part 5

Berkenalan dengan tukang kuda di gang salemba utan, pada suatu hari datang seorang lelaki bernama Karelatiredja. Pekerjaannya merais (berdagang) ia memelihara 8 ekor kuda jantan dan betina dan gerobaknya ada 2 buah pengangkut barang-barang yang akan dijualnya dimana-mana.

Pak Kertadiredja, menemui aku dimesjid waktu sudah malam kira-kira jam 9 segera ditanyanya aku akan dimana diamnya, kataku disinilah pak tanyanya lagi anak asal dari mana, asalku dari Pulau Borneo Barat Afderling Sintang Melawi Ulu, tanya ikut siapa ke sini, tidak ikut siapa-siapa pak, kemana saja sendiri ngembara. Apakah pekerjaan anak? tidak ada kerja pak, bagaimana soal makan dan minum selama disini, waktu mau makan kalau tidak diam-diam pak.

Maksud bapak tanya demikian, jika boleh dan anak mau bapak minta tolong bantu bapak kataku, bantu kerja apa pak?, katanya adalah, tapi nanti bapak tunjukkan kalau anak sudah datang dirumah bapak sebelah ini, kataku itu tidak jadi keberatan pak, kalau saja bisa kerjakan menurut kepandaian dan kemampuan saya pak juga itukan bapak bisa beri contoh dan tunjukkan kepadamu. Marilah kita kerumah nak, mana barang-barang roban anak bapak tolong angkat kata pak deradja tadi, Kata-kata hanya juga ada dibadan saja pak lalu aku ikut ke rumah pa deradja tiba disitu suruh duduk dulu dikursi, tidak berapa lamanya aku disuruh masuk ke dalam ruang menghadap dapur lalu duduk di kursi menghadap meja berisi sayur persiapan nasi dan makan. Pak deradja buka tutup tudung saji serta persilakan ajak makan bersama dia dan istri. Kata pak deradja makan betul-betul jangan malu-malu, hanya kami bertiga saja 1 cucu bapak sedang sekolah di mulo klas III, ibu/istriku dan aku. Setelah habis makan aku akan cuci piring dilarang pak deradja katanya kita istirahat dulu diberanda luar, terpaksa turut duduk diluar.

Mulailah pak deradja membuka cerita, pertama kali menceritakan keluarganya yang masih hidup didunia, nomor 1 pak deradja, nomor 2 Raden Suhartadiredja pekerjaannya menjadi guru kepala SD di Mampang Perapatan Pelamuran Tanabang Jakarta, no Rd Suharta di Bogor Gang Cuwaringin Tengah kerjanya tukang Dabi, nomor 3 Rd Rd Penodiredja kerja jadi tukang arang di Bogor gangnya sama, no. 4 Raden Suharmadiredja pekerjaannya tukang es.

Jadi bapak bermaksud sama anak bantu bapak ikut setiap waktu mau berangkat dari rumah pergi ke tempat yang ditujui merais belajar menjadi kusir, kalau anak sudah tampaknya mengerti (pandai) nanti bawalah anak satu gerobak yang dihela oleh 2 ekor kuda itu, untuk minggu ini anak belajar dulu dengan bapak sekilas kata pergi dan pulang.

Disampingnya bapak memberi petunjuk bersihkan kandang dan badan kuda serta beri makan kuda untuk ini bapak tidak memberi gaji hanya dapat makan dan bekerja dulu selama 1-3 bulan nanti baru bapak pertimbangkan sambil melihat kerajinan anak.

Part 4

Setelah satu setengah tahun diruawah 3 ibu 1 nenek kami, ayahpun diserangi penyakit amuben disentrie (berak lendir bercampur darah), tiada berapa lama menderita sakit iapun mati atau meninggal dunia, juga meninggal kami 5 beradik hingga menjadi anak yatim piatu (rulok). Demikian riwayat dan sla-sila keturun kita untuk pedoman dan diketahui semua anak cucu dan cicit hari depan.

Riwayat kami 5 beradik dalam hidup yatim piatu, kakakku ketiganya sudah besar dan perawan semuanya dan abangku saman sudah bujang, sedangkan aku sudah berumur 10-11 tahun.

Pada suatu hari datang bapak muda kami bernama Butih pangkat gelar menjadi Temenggung Benua asal suku Janpin dari Kalimantan Tengah Palangkaraya menyiarkan suruh masuk sekolah dan pak muda tersebut memang garang ia kuat pakai duplin perintah juga keras dan beberapa puluh kampung juga sudah diajarkan masuk sekolah dengan ancamannya barang siapa yang tak mau sekolah, orang tua akan dimasukan penjara satu setengah tahun.

Untuk memenuhkan permintaan bapak muda/temanggung Butih tadi kami 4 sanggup berangkat untuk sekolah yaitu 1 aku, 2 akah, nomor 3 kahukung, 4 Tu8ba, kami berempatpun siap setia sebuah sampan dengan alat-alat perkakas masak melalui beratus riam yang deras-deras hingga sampailah ditempat tujuan sekolah tadi dengan jauh perjalanan 9 hari bekayuh milir ke Nanga Pinoh.

Tahun yang pertama sekolah baik sampai akau duduk ke kelas II takala aku naik ke kelas III dilarang oleh kakakku dan keluarga maksudnya untuk membantu kerja ladang dan sebagainya. Dan aku disuruh menjaga ladang kami bermalam dipondok ladang berbulan-bulan disuruh abang ipar lakinya kakakku Taijahlaboh. Aku waktu itu sedang bergiat hati untuk meneruskan pelajaran. Kadang-kadang aku tidak ada nafsukan mengenang nasibku dihambat oleh abang ipar itu, aku tidur dipondok ladang sendiri alangkah sedih dan pilu hati bahwa juga ku idam-idam itu belum tercapai sampai dimana kemampuanku berfikir untuk menempuh pendidikkanku, kalau aku dapat meneruskan sekolahku itu hingga aku siang dan malam berdoa untuk minta tolong akal yang cukup  murni dariJatamahatara (Allah ta'ala).

Pada suatu ketika aku mendapat ilham akal tak ada lain memutus lari dari kampung dan seorangpun tidak ada yang mengetahui aku lari numpang/namping orang-orang yang sampai di Nanga Pinoh, dari Nanga Pinoh aku diam di dalam sebuah Kapal Api Belanda yang akan berangkat ke Pontianak. Aku hanya membawa sehelai sepinggang. Kapal api itupun pada jam 11 siang berangkatlah dari Nanga Pinoh milir sungai melawi.

Hari kedua aku dilaporkan oleh tukang masak/jangso kapal api pada orang Belanda Kapten kapal itu, aku ditanya tuan Kapten Kapal, jawabku sekolah di Pontianak, tanya kapten mana surat keterangan kamu sekolah? jawab tidak ada tuan. Kalau begitu sampai di Pontianak pulang lagi milir ke Pinoh itu ambil surat keterangan pindah sekolah, kataku baik tuan. Takala kami sampai, aku dianjurkan oleh tuan kapten tidak boleh berjalan kemana-mana, kita tunggu satu minggu lagi akan mudik ke Putussibau, kau singgah di Sintang dan dari Sintang boleh numpang kapal lain yang akan mudik ke Nanga Pinoh, ya tuan, lalu tuan kapten buka dompetnya keluar uang perak dua rupiah lima puluh sen kasih aku, nah ini uang aku kasih percuma untukmu beli jajan dan kasih selimut sehelai dan dirumah tukang jahit buat 1 stel pakaian, besoknya jadi lalu aku disuruh pakai dan bajuku lama aku cuci.

Kiranya tinggal 2 hari lagi akan mudik ke Putussibau, akupun timbul ilham suruh lari dari kapal tersebut, tenggat dalam buku matahari terbit. Kelas V waktu kami sekolah di Nanga Pinoh disitu tercandinya gambarnya Tanjung Perak, makanya aku mutus lari dari kapal api pindah ke Kapal KPM yangberangkat ke Jakarta tersembunyi didalam Kapal KPM seorangpuntidak ada yang tahu. Jam 8 pagi kapal KMP pun berlayarlah dari Pontianak satu setengah sudah kamipun tinggal di Belitung dan Pulau Pandan 1 jam menyinggahkan pos, kemudian jalan terus 1 hari 1 malam jam 7 malam kamipun tiba di Tanjung Priok serta melihat keadaan lampi listrik pelan kedip warna putih hijau merah, alangkah besarnya hatiku melihatnya.

Selama aku dalam kapal dapat makan dari bini belanda yang ada anaknya aku tolong juga dan ajima ibu istri serdadupun sangat senang hatinya karena ia dapat masak buat kami melalui banyak juga pindah ke Jawa.

Dalam kapal aku selalu ditanya dengan bini serdadu suruh ikut dia ke anu-anu, tapi aku menjawab mencari ibuku Enden di Bogor.

Selama dalam Kapal KPM aku jadi tukuang pijit beberapa orang Belanda penumpang kapal kelas 1 itu mabok laut hingga muntah kuning, lantas akupun memberanikan diri masuk ketempatnya, lalu aku tolong picit kepalanya bersihkan muntahnya. Mereka tidak berapa lama masing-masing mereka sembuh dan makanan kelas 1 dalam kapal aku puas sekali makan makanan di kasih Belanda hingga tidaklah susah makan selama didalam pelajaran sampai di Tanjung Priok.

Ada satu hal peristiwa sangat penting dan berbahaya ketika kami belajar dari Pontianak antara Pulau Pandan aku mau berak dalam kapal tidak tahu dimana WC/kakus hingga terpaksa aku manggeng di pinggir kapal setelah mau cebok pada sebuah pipa air besar ganlang pada lempar-lempar kapal itu lalu aku putar-putar terus tercabut sekrupnya air dalam pipa itupun terus menerus sampai diloteng kapal, lalu aku ceboklah dengan air itu serta habis basah kuyup badanku dan terus lari bersembunyi. Melihat demikian Kapten kapalpun takut kepada penghuni kapal seluruh kapal terus sumbat kembali dan akupun dimarahi oleh Kapten.

Takala kami sampai dipelabuhan Tanjung Priok tadi, segala penumpang yang sampai di Jakarta naik ke bom terus ke darat, akupun turut membuntut orang-orang sampai disebuah Kota tertulis namanya gang Selemba utan, memang kota itu betul-betul hutan buah-buahan macam semua ada.

Orang yang aku membuntutkan numpang dari Tanjung Priok ke gang selemba utan, terus menghilang tidak tahu ke mana peginya, jadi akupun bingung pikiran bertanya didalam hati sendiri lalu aku melihat kiri kanan terus berjalan beberapa langkah terlihat olehku sebuah misjid akupun berjalan menuju mesjid tersebut masuk perlahan-lahanlah terus duduk sebentar sambil berfikir nasibku yang tak dapat dikirakan kesengsaraan sedemikian seorangpun tidak ada kenalan, sebaliknya dalam alam pikiran siapa yang buat dia yang dapatnya. Terkenang aku berangkat ngembara ke tanah Jawa 1924 hanya membawa uang 10 sen dengan pakaian sehelai sepinggang.

Setelah 21 hari aku diam atau tidur dimesjid gang selemba hutan, amakn hanya beli sebungkus nasi yang dijual orang harga dua setengah sen sebungkus makan untuk 3 hari dan buah sawo 1 biji delapan sen.

Waktu selama aku diam atau bermalam di mesjid 21 hari. Tiap-tiap orang sembayang  aku ... demikian juga ketika orang sembayang ...., kadang-kadang habis orang pada pulang sembahyang aku sapu dan gulung tikar dan simpan rapi-rapi ditempat penyimpanan ditaruh oleh penghunu mesjid itu. Satu hal yang sangat aneh aku pikiri selama aku tinggal di mesjid, apabila waktu setengah malam/dekat waktu subuh aku didatangi rasa-rasa mimpi bahwa seorang tua lelaki memakai semacam kain batik yang didagunya muncul panjang lebih panjang dari dagu orang biasa duduk disamping sebelah kananku. Kadang-kadang menjaga aku makan, tapi bermacam-macam kelihatan makanan itu sudah kenyang semua perutku. Kedatangan orangtua itu tiap malam-malam jum'at. Hari Jum'at penghabisan (waktu malam) kakek tersebut kasih aku sebuah botol besarnya kecil dari kelingking panjangnya kurang lebih 5 mm bulat dan warna putih didalamnya hijau kuning kemerahan dan tidak ada tutup semua dalam botol itu agak seperti minyak (barang cair) bisa naik turun dan hidup. Pesan kakek suruh telan aku coba terus telan setelah masuk ke perutku rasa kerongkonganku termasuk neraka yang tidak ada bandingan pahit, kelat, bau angit, bau ampis (amis) dan busuk buntau selama kira-kira 5 menit, kemuadian mulai bau minyak serai terasa lemak manis dan wangi dalam 7 hari itu masih wangi tadi melekat dalam mulut dan terasa badan tenang, terus terang pendengaran, terang penglihatan tidak terasa lapar.


Kamis, 15 Juni 2023

Part 3


Potret pria Dayak Ot Danum yang bertato dari wilayah Kahayan di Kalimantan Tengah, sekitar tahun 1898–1900

Demikian kakakku Taijahlotah sudah bertambah umur 12 tahun, adikku Pelanduk dirubah nama ganti Pelandung ia sudah berumur 9 bulan ibu kami Taijaph pulang diserang penyakit cacar (bahasa Ot Danum "penyakit lupak" beberapa minggu menderita penyakit lupak lalu meninggal dunia pula, 3 bulan kemudian nenek Pijt pun menutup usianya dalam umur 103 tahun.

Ayahpun menjadi Budju (duda) sudah 3 kali. Mayat nenek dan ibu Taijpah dibuat tempatnya (lanong dari kayu besi (kayu tebelian) yang kukuh dan kuat kemudian dibakar dengan api terus gawaikan atau beruah cara-cara adat Hindu (Buda) semua tulang ibu Kapas yang tua dan ibuku Endens diambil dari dalam kuburnya dibakar menjadi satu dia punya abu dimasukkan dalam tempayan dibuat dan dimasukkan tempayan ke dalam sandung (bahasa uddanum) kediring dan 7 hari 7 malam lamanya pesta gawai menyelamatkan aruah 3 ibu dan nenek, potong kerbau 12 ekor, babi beratus ekor untuk sedekah memberi makan pada para tamu-tamu yang diundang hadir pesta selamatan arwah yang mati tersebut.

catatan : Suku Dayak Ot Danum (juga dikenal sebagai Dohoi, Malahoi, Uud Danum atau Uut Danum) adalah subetnis dari suku Dayak yang tinggal di hulu Sungai Kapuas selatan, dan di sepanjang pegunungan Schwaner, berbatasan dengan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, Indonesia.[3] Mereka adalah kelompok terpenting di hulu Sungai Melawi dan secara budaya dan bahasa paling berbeda dari suku Melayu.[4] Selain itu, suku Melayu, suku Dayak Ot Danum juga secara bahasa berbeda dengan suku Dayak Ngaju yang tinggal di sepanjang bagian tengah sungai-sungai besar Kalimantan Tengah dan secara numerik dan bahasa merupakan kelompok masyarakat Dayak yang dominan di daerah tersebut. 


Bang Arel (alm) waktu di Menakon
Foto disamping Patung Ukiran Kayu Khas Dayak

Patung Sapundu sebagai suatu karya seni tradisional masyarakat Dayak Ngaju memiliki beberapa fungsi yang penting. Fungsi utama patung ini adalah sebagai tiang penambat hewan-hewan kurban seperti kerbau, lembu, atau sapi yang akan dikorbankan dalam upacara Tiwah dan juga berfungsi sebagai bentuk perwakilan sosok figur yang akan menemani arwah menuju Lewu Tatau (alam surgawi).


Part 2

Kata orang, setelah umurku 14 hari ditinggalkan ibu Endens berpulang kerahmatullah, ayah kami Brookdjaja berangkat dari kampung pergi mengembara (memudi) ke daerah Kalimantan Timur (Bandjarmasin) terus ke Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Palangkaraya) bertahun-tahun lamanya.

Aku sduah berumur 3 bulan lebih, lalu diserangi penyakit panas dingin, antara 34 hari sekali datang penyakit panas dingin itu seterusnya sampai menimbulkan kuraku besar alias penyakit demam diri menjadi malaria chronesehi istilah sekarang ini. Hingga akupun tinggal tulang dengan kulit dan bernapas direkung antara mati dan hidup.

Keterangan usaha kakakuTaijpah dan saudara-saudara kami bermilie yang lainpun sudah cukup memanggil berpuluh dukun untuk merawat dan mengobatkan dakupun tak berhasil. Melihat keadaan demikian kakakku dan saudara-saudara yang lain sudah habislah iktiar dan akalnya masing-masing tinggal diserahkan pada Yang Maha Esa katanya.

Denagn takdir Tuhan Yang Maha Esa, antara 3 hari tibalah seorang perempuan tua kiranya berumur 95 tahun dari Kalimantan Utara (Brunai), namanya Pijt. Nenek Pijt itu adalah pekerjaannya dukun besar dan mashur di seluruh Kalimantan Utara (Brunei) kata orang.

Sedjurus kemudian kakakku berpaham dengan kaum waris dirumah untuk mengambil dukun nenek Pijt buat periksa dan penyakitku, keputusan harus beri tahu lebih dahulu sama Kepala Kampung atau Temenggung. Kemudian kakak mengadapkan Temenggung beritahu bahwa ia akan minta pertolongan dengan dukun besar untuk mengobat dan periksa penyakitku.

Jawab Temenggung, sedang berpuluh-puluhsudah dukun mengobat adikmu, pun tidak juga sembuh, sebab penyakit adikmu sudah berat tinggal menunggu hilang nyawanya kata Temenggung jawab. Mendengar jawab demikian kakakku bertambah menimbulkan sedih hatinya menangis mengucurkan air matanya kiri dan kanan dan kakaku kembali ke tempatku yang sedang menderita kuat dan keyaninan kakakku memutuskan berfikiran sendiri secara dulazor memberanikan diri datang menghadap dukun besar berbisik-bisik pada nenek dukun tersebut. Maka dengar laporan dari kakakku demikian, nenek dukun Pijt segera berangkat ke tempat kami terus merapat dan periksa daku.

Nenek dukunmemanggilkan minta sedia beras kuning dan telur ayam sebutir, setelah diperiksa dengan itu, kenyataan benar penyakitku sangat beratnya, tetapi roh ku masih dipegang oleh orang di "kayangan kantong sabang lingak tingang luco diang". Kata nenek dukun Pijt, untuk mengobatkan cucu ini harus memulihkan cara mengambil roh (semangatnya) dengan jalan berdewa lalu sibuklah sedia alat-alat berdewa itu namakan Njangkai: cara-cara berdewa njangkai berdoa nimang 3 hari 3 malam ambil rohku ditangan gemeluh di kayangan meminta danum keharingan dari kayangan dibaloh danum kaharingan ketangan dihadapan nenek lalu aku diberi minum air keharingan itu menjadi darah dagingku 3 hari kemudian setelah masuk rohku kedalam seluruh tubuh akupun mulai berangun sadar menjadi sembuh dan aku bisa makan dan minum seperti biasa terus sembuh kembali sehat wal afiat.

Nenek menerangkan dengan orang ramai bahwa dia adalah istri dari Raden Songo js ke 7 (istri dari kakek Raden nomor 7 baru ia lalu bahwa aku adalah cucu dari dukun Raden Pijt dan Raden Songo. Lalu nenek Raden Pijtpun terus tinggal dirumah kami turut mengasuhkan daku peliharakan kami 5 beradik. Maka tumbuhlah riang gembira kakakku serta semua orang seluruh kampung kami. Gembira dan senang seluruh kampung kami. Dengan demikian nenek Pijtpun seringkali diambil orang-orang kampung lain menjalankan tugasnya memberikan pertolongan kepada rakyat pedalaman diluar kampung kami.

Aku sudah berumur 1 1/2 tahun (16 bulan), ayah kami tiba kembali di kampung kami di Menakon membawa seorang wanita muda berumur lebih kurang 25 tahun nama Taijpah, yaitu bakal ibu kami yang ke tiga. lalu ayah memperkenalkan kepada kami sekalian ibu yang baru dengan harum dan terus ayah mengadakan selamatan secara adat kita di pedalaman dihadapan Temenggung dan Kepala Adat.

Kamipun berkumpullah timbul riang gembira gilang gemilang rukun damainya bertambah ibu muda kami sangat peramahnya dengan kami hingga kamipun bertambah kasih sayang saja padanya ibu baru (Taypah). Dari bulan ke tahun kami berukun damai satu periuk sampai aku berumur 5 tahun sudah ingat, berjalan turun naik rumah dan ikut pergi ke ladangpun dapat.

Ibu Taipahpun sudah mengandung dan beranak laki nama adikku Pelanduk, kami bertambah 1 jiwa dalam tanggungan dapur ayahku.

Riwayat Ayahku (Brookdjaja)

Brookdjaja ikut orangtua (ayahnya) Raden Songo dari Kalimantan Timur Bandjarmasin pindah ke daerah pedalaman Kalimantan Barat, Melawi Ulu.

Brookdjaja mempunyai istri 5 orang, istri yang pertama nama Kapas binti Ambauw, istri kedua nama Endens binti Pangeran Puraij, istri ketiga nama Taijpah binti Tjihung. Ayah (Brooksdjaja) kawin buakn dimadu melainkan kawin satu-satu karena bercerai waktu mati (meninggal dunia). Ayah menjadi Budju (duda) didalam beberapa tahun kemuadian ayahpun kawin ibu baru (yang kedua) nama Endens binti Pangeran Puraij.

Hasil perkawinan ayah dan ibu enden (istri yang kedua) mendapatkan anak 5 orang yaitu nama Taijah (Inoilotah perempuan nomor 2 Manjong nomor 3 Saman Laki nomor 4 Ponjong perempuan nomor 5 Muhammad Hasan B lelaki.

Aku dilahirkan menurut orang-orang dan saudaraku yang tua pada 15 Januari 1912, setelah aku berumur 3 hari, ibuku endenpun kena serangan penyakit cika (muntah berak) terus meninggal dunia, aku adalah anak yang paling bungsu (terakhir) dari hasil perkawinan ayahku Brookdjaja dengan ibuku Enden tadi.

Berarti ibuku Endens meninggal dunia karena melahirkan daku, Betapa sedih dan pilunya aku ditinggalkan ibuku, mengapa aku tidak dibawa pulang sekaligus tempat alam baka kembali asal untuk selama-lamanyabersama ibuku itu.

Kini aku hidup diasuhi oleh saudara-saudaraku dalam neraka dunia alam cuaca gelap gilita dari umur 3 hari sampai 3 bulan (90 hari) yang kakakku mengasuh atau menghuni kami berempat, setiap waktu detik siang dan malam tidak mengenal jerih payah untuk mengawasi kami beradik.

Nyata dan terasa jerih payah pahit getir neraka dunia alam terbuka pendekkan kata hidup menderita dan sengsara tak dapatlah dikesahkan. Kakak kami nama Taijah Talah) waktu itu sedang berumur 9 atau 10 tahun sambil mengasuh kami adik-adiknya turut juga menghuni ladang gunung kami yang ajuhnya dari rumah betang kira-kira perjalanan 1 1/2 jam baru sampai di pondok ladang kami dan aku digendong kakakku ke ladang. Kisah orang-orang kalau kakak turun kerja di ladang aku digantungkan ayunan di tengah-tengah ladang. Makananku waktu itu kakakku buat dari nasi ditumbuk halus-halus campur gula tebu dan dibungkusnya dengan daun pisang di pais dan disalai dipasang api.

Bilamana aku diberi makan dengan nasi pirik diatur olehnya 1 pais sehari makan 3 (4 kali sehari), selain dari nasi pirik, kami ada pelihara 3 ekor anjing yang amat sidik dan setia dengan tuan rumahnya yaitu nomor 1 nama Njanpun, nomor 2 nama Bura dan nomor 3 nama Tukan. Nyanpun dan Bura keduanya lelaki yang sangat bijaksana (matang) dan sangat cerdasnya, anjing kami bernama Tukan (anjing perempuan) sedang beranak juga 2 ekor anaknya serta keduanya sangat sehatnya. Melihat keadaan anak anjing sangat subu8rnya, kakak saya Taijah Tatah berfikir sekejap lalu dia periksa induk anjing (si Tukan) tadi tengah-tengah menyusukan kedua anaknya itu, lantas susu anjing kami nama Tukan tadi diperasnya masuk ke dalam botol yang sedang besarnya disumbat dengan pelaik yang lembut, pelaik diberi lubang halus-halus terus botol berisi susu anjing kami dipanaskan sedang (panas kuku) barulah dikasikkan padaku minum susu itu 3 kali sekali aku dikasih minum susu anjing kami, hingga badanku makin bertambah pula suburnya dan seterusnya.


Muhammad Hasan Brook (Part 1)

Ayahku bernama Brookdjaja, Brookdjaja bin gelar Raden Songo. Tempat kelahiran ayahku di Tumbang Pedjange didalam sungai Jahayan Kalimantan Timur Bandjarmasin.

Raden Songo bin Raden Pakualamdjajadipura Raden Songo dilahirkan di Kampung Tebah anak Sungai Kahayan Kalimantan Timur Bandjarmasin.

Raden Pakualamdjajadipura kabarnya berasal dari pulau Bali (Djawa) ia kaki tangannya waktu djaman Pemerintah Madjapahit di Pulau Borneo (Pulau Kalimantan) dan kawin dengan putri Kalimantan Timur Bandjarmasin bernama Intan Putri Tunggal.

Ayahku Brookdjaja kawin dengan ibuku bernama Endens, ibuku endens binti gelar Pangeran Puraij, lahirnya di Nanga Sukan daerah Pinoh Randen Kota Baru.

Muhammad Hasan Brook Lahir 15 Januari 1912 di Kampung Menakon dalam sungai Djangonoi anak sungai Ambalau Kecamatan Nanga Ambalau Melawi ulu Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat.

Tahun 1935 Kawin dengan Halimah binti Amat Djafar di Bengkayang, Halimah tersebut adalah anak angkat dari pak Amat Djafar tadi, dan yang sebenar Halimah itu adalah anak dari suku bangsa china dan namanya Liem Moi Tsa binti Liem Laeno Heng. Lahirnya 1914 di Peniti Besar daerah Pontianak warga negara Indonesia Provinsi Kalimantan Barat.




Part 6

Keesokan harinya akupun mulai belajar menjadi kusir bawa 2 ekor kuda yang menarik gerobak itu berkeliling kota seluruh ........... jalan di ...