Senin, 13 Mei 2024

Part 5

Berkenalan dengan tukang kuda di gang salemba utan, pada suatu hari datang seorang lelaki bernama Karelatiredja. Pekerjaannya merais (berdagang) ia memelihara 8 ekor kuda jantan dan betina dan gerobaknya ada 2 buah pengangkut barang-barang yang akan dijualnya dimana-mana.

Pak Kertadiredja, menemui aku dimesjid waktu sudah malam kira-kira jam 9 segera ditanyanya aku akan dimana diamnya, kataku disinilah pak tanyanya lagi anak asal dari mana, asalku dari Pulau Borneo Barat Afderling Sintang Melawi Ulu, tanya ikut siapa ke sini, tidak ikut siapa-siapa pak, kemana saja sendiri ngembara. Apakah pekerjaan anak? tidak ada kerja pak, bagaimana soal makan dan minum selama disini, waktu mau makan kalau tidak diam-diam pak.

Maksud bapak tanya demikian, jika boleh dan anak mau bapak minta tolong bantu bapak kataku, bantu kerja apa pak?, katanya adalah, tapi nanti bapak tunjukkan kalau anak sudah datang dirumah bapak sebelah ini, kataku itu tidak jadi keberatan pak, kalau saja bisa kerjakan menurut kepandaian dan kemampuan saya pak juga itukan bapak bisa beri contoh dan tunjukkan kepadamu. Marilah kita kerumah nak, mana barang-barang roban anak bapak tolong angkat kata pak deradja tadi, Kata-kata hanya juga ada dibadan saja pak lalu aku ikut ke rumah pa deradja tiba disitu suruh duduk dulu dikursi, tidak berapa lamanya aku disuruh masuk ke dalam ruang menghadap dapur lalu duduk di kursi menghadap meja berisi sayur persiapan nasi dan makan. Pak deradja buka tutup tudung saji serta persilakan ajak makan bersama dia dan istri. Kata pak deradja makan betul-betul jangan malu-malu, hanya kami bertiga saja 1 cucu bapak sedang sekolah di mulo klas III, ibu/istriku dan aku. Setelah habis makan aku akan cuci piring dilarang pak deradja katanya kita istirahat dulu diberanda luar, terpaksa turut duduk diluar.

Mulailah pak deradja membuka cerita, pertama kali menceritakan keluarganya yang masih hidup didunia, nomor 1 pak deradja, nomor 2 Raden Suhartadiredja pekerjaannya menjadi guru kepala SD di Mampang Perapatan Pelamuran Tanabang Jakarta, no Rd Suharta di Bogor Gang Cuwaringin Tengah kerjanya tukang Dabi, nomor 3 Rd Rd Penodiredja kerja jadi tukang arang di Bogor gangnya sama, no. 4 Raden Suharmadiredja pekerjaannya tukang es.

Jadi bapak bermaksud sama anak bantu bapak ikut setiap waktu mau berangkat dari rumah pergi ke tempat yang ditujui merais belajar menjadi kusir, kalau anak sudah tampaknya mengerti (pandai) nanti bawalah anak satu gerobak yang dihela oleh 2 ekor kuda itu, untuk minggu ini anak belajar dulu dengan bapak sekilas kata pergi dan pulang.

Disampingnya bapak memberi petunjuk bersihkan kandang dan badan kuda serta beri makan kuda untuk ini bapak tidak memberi gaji hanya dapat makan dan bekerja dulu selama 1-3 bulan nanti baru bapak pertimbangkan sambil melihat kerajinan anak.

Part 4

Setelah satu setengah tahun diruawah 3 ibu 1 nenek kami, ayahpun diserangi penyakit amuben disentrie (berak lendir bercampur darah), tiada berapa lama menderita sakit iapun mati atau meninggal dunia, juga meninggal kami 5 beradik hingga menjadi anak yatim piatu (rulok). Demikian riwayat dan sla-sila keturun kita untuk pedoman dan diketahui semua anak cucu dan cicit hari depan.

Riwayat kami 5 beradik dalam hidup yatim piatu, kakakku ketiganya sudah besar dan perawan semuanya dan abangku saman sudah bujang, sedangkan aku sudah berumur 10-11 tahun.

Pada suatu hari datang bapak muda kami bernama Butih pangkat gelar menjadi Temenggung Benua asal suku Janpin dari Kalimantan Tengah Palangkaraya menyiarkan suruh masuk sekolah dan pak muda tersebut memang garang ia kuat pakai duplin perintah juga keras dan beberapa puluh kampung juga sudah diajarkan masuk sekolah dengan ancamannya barang siapa yang tak mau sekolah, orang tua akan dimasukan penjara satu setengah tahun.

Untuk memenuhkan permintaan bapak muda/temanggung Butih tadi kami 4 sanggup berangkat untuk sekolah yaitu 1 aku, 2 akah, nomor 3 kahukung, 4 Tu8ba, kami berempatpun siap setia sebuah sampan dengan alat-alat perkakas masak melalui beratus riam yang deras-deras hingga sampailah ditempat tujuan sekolah tadi dengan jauh perjalanan 9 hari bekayuh milir ke Nanga Pinoh.

Tahun yang pertama sekolah baik sampai akau duduk ke kelas II takala aku naik ke kelas III dilarang oleh kakakku dan keluarga maksudnya untuk membantu kerja ladang dan sebagainya. Dan aku disuruh menjaga ladang kami bermalam dipondok ladang berbulan-bulan disuruh abang ipar lakinya kakakku Taijahlaboh. Aku waktu itu sedang bergiat hati untuk meneruskan pelajaran. Kadang-kadang aku tidak ada nafsukan mengenang nasibku dihambat oleh abang ipar itu, aku tidur dipondok ladang sendiri alangkah sedih dan pilu hati bahwa juga ku idam-idam itu belum tercapai sampai dimana kemampuanku berfikir untuk menempuh pendidikkanku, kalau aku dapat meneruskan sekolahku itu hingga aku siang dan malam berdoa untuk minta tolong akal yang cukup  murni dariJatamahatara (Allah ta'ala).

Pada suatu ketika aku mendapat ilham akal tak ada lain memutus lari dari kampung dan seorangpun tidak ada yang mengetahui aku lari numpang/namping orang-orang yang sampai di Nanga Pinoh, dari Nanga Pinoh aku diam di dalam sebuah Kapal Api Belanda yang akan berangkat ke Pontianak. Aku hanya membawa sehelai sepinggang. Kapal api itupun pada jam 11 siang berangkatlah dari Nanga Pinoh milir sungai melawi.

Hari kedua aku dilaporkan oleh tukang masak/jangso kapal api pada orang Belanda Kapten kapal itu, aku ditanya tuan Kapten Kapal, jawabku sekolah di Pontianak, tanya kapten mana surat keterangan kamu sekolah? jawab tidak ada tuan. Kalau begitu sampai di Pontianak pulang lagi milir ke Pinoh itu ambil surat keterangan pindah sekolah, kataku baik tuan. Takala kami sampai, aku dianjurkan oleh tuan kapten tidak boleh berjalan kemana-mana, kita tunggu satu minggu lagi akan mudik ke Putussibau, kau singgah di Sintang dan dari Sintang boleh numpang kapal lain yang akan mudik ke Nanga Pinoh, ya tuan, lalu tuan kapten buka dompetnya keluar uang perak dua rupiah lima puluh sen kasih aku, nah ini uang aku kasih percuma untukmu beli jajan dan kasih selimut sehelai dan dirumah tukang jahit buat 1 stel pakaian, besoknya jadi lalu aku disuruh pakai dan bajuku lama aku cuci.

Kiranya tinggal 2 hari lagi akan mudik ke Putussibau, akupun timbul ilham suruh lari dari kapal tersebut, tenggat dalam buku matahari terbit. Kelas V waktu kami sekolah di Nanga Pinoh disitu tercandinya gambarnya Tanjung Perak, makanya aku mutus lari dari kapal api pindah ke Kapal KPM yangberangkat ke Jakarta tersembunyi didalam Kapal KPM seorangpuntidak ada yang tahu. Jam 8 pagi kapal KMP pun berlayarlah dari Pontianak satu setengah sudah kamipun tinggal di Belitung dan Pulau Pandan 1 jam menyinggahkan pos, kemudian jalan terus 1 hari 1 malam jam 7 malam kamipun tiba di Tanjung Priok serta melihat keadaan lampi listrik pelan kedip warna putih hijau merah, alangkah besarnya hatiku melihatnya.

Selama aku dalam kapal dapat makan dari bini belanda yang ada anaknya aku tolong juga dan ajima ibu istri serdadupun sangat senang hatinya karena ia dapat masak buat kami melalui banyak juga pindah ke Jawa.

Dalam kapal aku selalu ditanya dengan bini serdadu suruh ikut dia ke anu-anu, tapi aku menjawab mencari ibuku Enden di Bogor.

Selama dalam Kapal KPM aku jadi tukuang pijit beberapa orang Belanda penumpang kapal kelas 1 itu mabok laut hingga muntah kuning, lantas akupun memberanikan diri masuk ketempatnya, lalu aku tolong picit kepalanya bersihkan muntahnya. Mereka tidak berapa lama masing-masing mereka sembuh dan makanan kelas 1 dalam kapal aku puas sekali makan makanan di kasih Belanda hingga tidaklah susah makan selama didalam pelajaran sampai di Tanjung Priok.

Ada satu hal peristiwa sangat penting dan berbahaya ketika kami belajar dari Pontianak antara Pulau Pandan aku mau berak dalam kapal tidak tahu dimana WC/kakus hingga terpaksa aku manggeng di pinggir kapal setelah mau cebok pada sebuah pipa air besar ganlang pada lempar-lempar kapal itu lalu aku putar-putar terus tercabut sekrupnya air dalam pipa itupun terus menerus sampai diloteng kapal, lalu aku ceboklah dengan air itu serta habis basah kuyup badanku dan terus lari bersembunyi. Melihat demikian Kapten kapalpun takut kepada penghuni kapal seluruh kapal terus sumbat kembali dan akupun dimarahi oleh Kapten.

Takala kami sampai dipelabuhan Tanjung Priok tadi, segala penumpang yang sampai di Jakarta naik ke bom terus ke darat, akupun turut membuntut orang-orang sampai disebuah Kota tertulis namanya gang Selemba utan, memang kota itu betul-betul hutan buah-buahan macam semua ada.

Orang yang aku membuntutkan numpang dari Tanjung Priok ke gang selemba utan, terus menghilang tidak tahu ke mana peginya, jadi akupun bingung pikiran bertanya didalam hati sendiri lalu aku melihat kiri kanan terus berjalan beberapa langkah terlihat olehku sebuah misjid akupun berjalan menuju mesjid tersebut masuk perlahan-lahanlah terus duduk sebentar sambil berfikir nasibku yang tak dapat dikirakan kesengsaraan sedemikian seorangpun tidak ada kenalan, sebaliknya dalam alam pikiran siapa yang buat dia yang dapatnya. Terkenang aku berangkat ngembara ke tanah Jawa 1924 hanya membawa uang 10 sen dengan pakaian sehelai sepinggang.

Setelah 21 hari aku diam atau tidur dimesjid gang selemba hutan, amakn hanya beli sebungkus nasi yang dijual orang harga dua setengah sen sebungkus makan untuk 3 hari dan buah sawo 1 biji delapan sen.

Waktu selama aku diam atau bermalam di mesjid 21 hari. Tiap-tiap orang sembayang  aku ... demikian juga ketika orang sembayang ...., kadang-kadang habis orang pada pulang sembahyang aku sapu dan gulung tikar dan simpan rapi-rapi ditempat penyimpanan ditaruh oleh penghunu mesjid itu. Satu hal yang sangat aneh aku pikiri selama aku tinggal di mesjid, apabila waktu setengah malam/dekat waktu subuh aku didatangi rasa-rasa mimpi bahwa seorang tua lelaki memakai semacam kain batik yang didagunya muncul panjang lebih panjang dari dagu orang biasa duduk disamping sebelah kananku. Kadang-kadang menjaga aku makan, tapi bermacam-macam kelihatan makanan itu sudah kenyang semua perutku. Kedatangan orangtua itu tiap malam-malam jum'at. Hari Jum'at penghabisan (waktu malam) kakek tersebut kasih aku sebuah botol besarnya kecil dari kelingking panjangnya kurang lebih 5 mm bulat dan warna putih didalamnya hijau kuning kemerahan dan tidak ada tutup semua dalam botol itu agak seperti minyak (barang cair) bisa naik turun dan hidup. Pesan kakek suruh telan aku coba terus telan setelah masuk ke perutku rasa kerongkonganku termasuk neraka yang tidak ada bandingan pahit, kelat, bau angit, bau ampis (amis) dan busuk buntau selama kira-kira 5 menit, kemuadian mulai bau minyak serai terasa lemak manis dan wangi dalam 7 hari itu masih wangi tadi melekat dalam mulut dan terasa badan tenang, terus terang pendengaran, terang penglihatan tidak terasa lapar.


Part 6

Keesokan harinya akupun mulai belajar menjadi kusir bawa 2 ekor kuda yang menarik gerobak itu berkeliling kota seluruh ........... jalan di ...