Kata orang, setelah umurku 14 hari ditinggalkan ibu Endens berpulang kerahmatullah, ayah kami Brookdjaja berangkat dari kampung pergi mengembara (memudi) ke daerah Kalimantan Timur (Bandjarmasin) terus ke Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Palangkaraya) bertahun-tahun lamanya.
Aku sduah berumur 3 bulan lebih, lalu diserangi penyakit panas dingin, antara 34 hari sekali datang penyakit panas dingin itu seterusnya sampai menimbulkan kuraku besar alias penyakit demam diri menjadi malaria chronesehi istilah sekarang ini. Hingga akupun tinggal tulang dengan kulit dan bernapas direkung antara mati dan hidup.
Keterangan usaha kakakuTaijpah dan saudara-saudara kami bermilie yang lainpun sudah cukup memanggil berpuluh dukun untuk merawat dan mengobatkan dakupun tak berhasil. Melihat keadaan demikian kakakku dan saudara-saudara yang lain sudah habislah iktiar dan akalnya masing-masing tinggal diserahkan pada Yang Maha Esa katanya.
Denagn takdir Tuhan Yang Maha Esa, antara 3 hari tibalah seorang perempuan tua kiranya berumur 95 tahun dari Kalimantan Utara (Brunai), namanya Pijt. Nenek Pijt itu adalah pekerjaannya dukun besar dan mashur di seluruh Kalimantan Utara (Brunei) kata orang.
Sedjurus kemudian kakakku berpaham dengan kaum waris dirumah untuk mengambil dukun nenek Pijt buat periksa dan penyakitku, keputusan harus beri tahu lebih dahulu sama Kepala Kampung atau Temenggung. Kemudian kakak mengadapkan Temenggung beritahu bahwa ia akan minta pertolongan dengan dukun besar untuk mengobat dan periksa penyakitku.
Jawab Temenggung, sedang berpuluh-puluhsudah dukun mengobat adikmu, pun tidak juga sembuh, sebab penyakit adikmu sudah berat tinggal menunggu hilang nyawanya kata Temenggung jawab. Mendengar jawab demikian kakakku bertambah menimbulkan sedih hatinya menangis mengucurkan air matanya kiri dan kanan dan kakaku kembali ke tempatku yang sedang menderita kuat dan keyaninan kakakku memutuskan berfikiran sendiri secara dulazor memberanikan diri datang menghadap dukun besar berbisik-bisik pada nenek dukun tersebut. Maka dengar laporan dari kakakku demikian, nenek dukun Pijt segera berangkat ke tempat kami terus merapat dan periksa daku.
Nenek dukunmemanggilkan minta sedia beras kuning dan telur ayam sebutir, setelah diperiksa dengan itu, kenyataan benar penyakitku sangat beratnya, tetapi roh ku masih dipegang oleh orang di "kayangan kantong sabang lingak tingang luco diang". Kata nenek dukun Pijt, untuk mengobatkan cucu ini harus memulihkan cara mengambil roh (semangatnya) dengan jalan berdewa lalu sibuklah sedia alat-alat berdewa itu namakan Njangkai: cara-cara berdewa njangkai berdoa nimang 3 hari 3 malam ambil rohku ditangan gemeluh di kayangan meminta danum keharingan dari kayangan dibaloh danum kaharingan ketangan dihadapan nenek lalu aku diberi minum air keharingan itu menjadi darah dagingku 3 hari kemudian setelah masuk rohku kedalam seluruh tubuh akupun mulai berangun sadar menjadi sembuh dan aku bisa makan dan minum seperti biasa terus sembuh kembali sehat wal afiat.
Nenek menerangkan dengan orang ramai bahwa dia adalah istri dari Raden Songo js ke 7 (istri dari kakek Raden nomor 7 baru ia lalu bahwa aku adalah cucu dari dukun Raden Pijt dan Raden Songo. Lalu nenek Raden Pijtpun terus tinggal dirumah kami turut mengasuhkan daku peliharakan kami 5 beradik. Maka tumbuhlah riang gembira kakakku serta semua orang seluruh kampung kami. Gembira dan senang seluruh kampung kami. Dengan demikian nenek Pijtpun seringkali diambil orang-orang kampung lain menjalankan tugasnya memberikan pertolongan kepada rakyat pedalaman diluar kampung kami.
Aku sudah berumur 1 1/2 tahun (16 bulan), ayah kami tiba kembali di kampung kami di Menakon membawa seorang wanita muda berumur lebih kurang 25 tahun nama Taijpah, yaitu bakal ibu kami yang ke tiga. lalu ayah memperkenalkan kepada kami sekalian ibu yang baru dengan harum dan terus ayah mengadakan selamatan secara adat kita di pedalaman dihadapan Temenggung dan Kepala Adat.
Kamipun berkumpullah timbul riang gembira gilang gemilang rukun damainya bertambah ibu muda kami sangat peramahnya dengan kami hingga kamipun bertambah kasih sayang saja padanya ibu baru (Taypah). Dari bulan ke tahun kami berukun damai satu periuk sampai aku berumur 5 tahun sudah ingat, berjalan turun naik rumah dan ikut pergi ke ladangpun dapat.
Ibu Taipahpun sudah mengandung dan beranak laki nama adikku Pelanduk, kami bertambah 1 jiwa dalam tanggungan dapur ayahku.