Kamis, 15 Juni 2023

Part 3


Potret pria Dayak Ot Danum yang bertato dari wilayah Kahayan di Kalimantan Tengah, sekitar tahun 1898–1900

Demikian kakakku Taijahlotah sudah bertambah umur 12 tahun, adikku Pelanduk dirubah nama ganti Pelandung ia sudah berumur 9 bulan ibu kami Taijaph pulang diserang penyakit cacar (bahasa Ot Danum "penyakit lupak" beberapa minggu menderita penyakit lupak lalu meninggal dunia pula, 3 bulan kemudian nenek Pijt pun menutup usianya dalam umur 103 tahun.

Ayahpun menjadi Budju (duda) sudah 3 kali. Mayat nenek dan ibu Taijpah dibuat tempatnya (lanong dari kayu besi (kayu tebelian) yang kukuh dan kuat kemudian dibakar dengan api terus gawaikan atau beruah cara-cara adat Hindu (Buda) semua tulang ibu Kapas yang tua dan ibuku Endens diambil dari dalam kuburnya dibakar menjadi satu dia punya abu dimasukkan dalam tempayan dibuat dan dimasukkan tempayan ke dalam sandung (bahasa uddanum) kediring dan 7 hari 7 malam lamanya pesta gawai menyelamatkan aruah 3 ibu dan nenek, potong kerbau 12 ekor, babi beratus ekor untuk sedekah memberi makan pada para tamu-tamu yang diundang hadir pesta selamatan arwah yang mati tersebut.

catatan : Suku Dayak Ot Danum (juga dikenal sebagai Dohoi, Malahoi, Uud Danum atau Uut Danum) adalah subetnis dari suku Dayak yang tinggal di hulu Sungai Kapuas selatan, dan di sepanjang pegunungan Schwaner, berbatasan dengan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, Indonesia.[3] Mereka adalah kelompok terpenting di hulu Sungai Melawi dan secara budaya dan bahasa paling berbeda dari suku Melayu.[4] Selain itu, suku Melayu, suku Dayak Ot Danum juga secara bahasa berbeda dengan suku Dayak Ngaju yang tinggal di sepanjang bagian tengah sungai-sungai besar Kalimantan Tengah dan secara numerik dan bahasa merupakan kelompok masyarakat Dayak yang dominan di daerah tersebut. 


Bang Arel (alm) waktu di Menakon
Foto disamping Patung Ukiran Kayu Khas Dayak

Patung Sapundu sebagai suatu karya seni tradisional masyarakat Dayak Ngaju memiliki beberapa fungsi yang penting. Fungsi utama patung ini adalah sebagai tiang penambat hewan-hewan kurban seperti kerbau, lembu, atau sapi yang akan dikorbankan dalam upacara Tiwah dan juga berfungsi sebagai bentuk perwakilan sosok figur yang akan menemani arwah menuju Lewu Tatau (alam surgawi).


Part 2

Kata orang, setelah umurku 14 hari ditinggalkan ibu Endens berpulang kerahmatullah, ayah kami Brookdjaja berangkat dari kampung pergi mengembara (memudi) ke daerah Kalimantan Timur (Bandjarmasin) terus ke Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Palangkaraya) bertahun-tahun lamanya.

Aku sduah berumur 3 bulan lebih, lalu diserangi penyakit panas dingin, antara 34 hari sekali datang penyakit panas dingin itu seterusnya sampai menimbulkan kuraku besar alias penyakit demam diri menjadi malaria chronesehi istilah sekarang ini. Hingga akupun tinggal tulang dengan kulit dan bernapas direkung antara mati dan hidup.

Keterangan usaha kakakuTaijpah dan saudara-saudara kami bermilie yang lainpun sudah cukup memanggil berpuluh dukun untuk merawat dan mengobatkan dakupun tak berhasil. Melihat keadaan demikian kakakku dan saudara-saudara yang lain sudah habislah iktiar dan akalnya masing-masing tinggal diserahkan pada Yang Maha Esa katanya.

Denagn takdir Tuhan Yang Maha Esa, antara 3 hari tibalah seorang perempuan tua kiranya berumur 95 tahun dari Kalimantan Utara (Brunai), namanya Pijt. Nenek Pijt itu adalah pekerjaannya dukun besar dan mashur di seluruh Kalimantan Utara (Brunei) kata orang.

Sedjurus kemudian kakakku berpaham dengan kaum waris dirumah untuk mengambil dukun nenek Pijt buat periksa dan penyakitku, keputusan harus beri tahu lebih dahulu sama Kepala Kampung atau Temenggung. Kemudian kakak mengadapkan Temenggung beritahu bahwa ia akan minta pertolongan dengan dukun besar untuk mengobat dan periksa penyakitku.

Jawab Temenggung, sedang berpuluh-puluhsudah dukun mengobat adikmu, pun tidak juga sembuh, sebab penyakit adikmu sudah berat tinggal menunggu hilang nyawanya kata Temenggung jawab. Mendengar jawab demikian kakakku bertambah menimbulkan sedih hatinya menangis mengucurkan air matanya kiri dan kanan dan kakaku kembali ke tempatku yang sedang menderita kuat dan keyaninan kakakku memutuskan berfikiran sendiri secara dulazor memberanikan diri datang menghadap dukun besar berbisik-bisik pada nenek dukun tersebut. Maka dengar laporan dari kakakku demikian, nenek dukun Pijt segera berangkat ke tempat kami terus merapat dan periksa daku.

Nenek dukunmemanggilkan minta sedia beras kuning dan telur ayam sebutir, setelah diperiksa dengan itu, kenyataan benar penyakitku sangat beratnya, tetapi roh ku masih dipegang oleh orang di "kayangan kantong sabang lingak tingang luco diang". Kata nenek dukun Pijt, untuk mengobatkan cucu ini harus memulihkan cara mengambil roh (semangatnya) dengan jalan berdewa lalu sibuklah sedia alat-alat berdewa itu namakan Njangkai: cara-cara berdewa njangkai berdoa nimang 3 hari 3 malam ambil rohku ditangan gemeluh di kayangan meminta danum keharingan dari kayangan dibaloh danum kaharingan ketangan dihadapan nenek lalu aku diberi minum air keharingan itu menjadi darah dagingku 3 hari kemudian setelah masuk rohku kedalam seluruh tubuh akupun mulai berangun sadar menjadi sembuh dan aku bisa makan dan minum seperti biasa terus sembuh kembali sehat wal afiat.

Nenek menerangkan dengan orang ramai bahwa dia adalah istri dari Raden Songo js ke 7 (istri dari kakek Raden nomor 7 baru ia lalu bahwa aku adalah cucu dari dukun Raden Pijt dan Raden Songo. Lalu nenek Raden Pijtpun terus tinggal dirumah kami turut mengasuhkan daku peliharakan kami 5 beradik. Maka tumbuhlah riang gembira kakakku serta semua orang seluruh kampung kami. Gembira dan senang seluruh kampung kami. Dengan demikian nenek Pijtpun seringkali diambil orang-orang kampung lain menjalankan tugasnya memberikan pertolongan kepada rakyat pedalaman diluar kampung kami.

Aku sudah berumur 1 1/2 tahun (16 bulan), ayah kami tiba kembali di kampung kami di Menakon membawa seorang wanita muda berumur lebih kurang 25 tahun nama Taijpah, yaitu bakal ibu kami yang ke tiga. lalu ayah memperkenalkan kepada kami sekalian ibu yang baru dengan harum dan terus ayah mengadakan selamatan secara adat kita di pedalaman dihadapan Temenggung dan Kepala Adat.

Kamipun berkumpullah timbul riang gembira gilang gemilang rukun damainya bertambah ibu muda kami sangat peramahnya dengan kami hingga kamipun bertambah kasih sayang saja padanya ibu baru (Taypah). Dari bulan ke tahun kami berukun damai satu periuk sampai aku berumur 5 tahun sudah ingat, berjalan turun naik rumah dan ikut pergi ke ladangpun dapat.

Ibu Taipahpun sudah mengandung dan beranak laki nama adikku Pelanduk, kami bertambah 1 jiwa dalam tanggungan dapur ayahku.

Riwayat Ayahku (Brookdjaja)

Brookdjaja ikut orangtua (ayahnya) Raden Songo dari Kalimantan Timur Bandjarmasin pindah ke daerah pedalaman Kalimantan Barat, Melawi Ulu.

Brookdjaja mempunyai istri 5 orang, istri yang pertama nama Kapas binti Ambauw, istri kedua nama Endens binti Pangeran Puraij, istri ketiga nama Taijpah binti Tjihung. Ayah (Brooksdjaja) kawin buakn dimadu melainkan kawin satu-satu karena bercerai waktu mati (meninggal dunia). Ayah menjadi Budju (duda) didalam beberapa tahun kemuadian ayahpun kawin ibu baru (yang kedua) nama Endens binti Pangeran Puraij.

Hasil perkawinan ayah dan ibu enden (istri yang kedua) mendapatkan anak 5 orang yaitu nama Taijah (Inoilotah perempuan nomor 2 Manjong nomor 3 Saman Laki nomor 4 Ponjong perempuan nomor 5 Muhammad Hasan B lelaki.

Aku dilahirkan menurut orang-orang dan saudaraku yang tua pada 15 Januari 1912, setelah aku berumur 3 hari, ibuku endenpun kena serangan penyakit cika (muntah berak) terus meninggal dunia, aku adalah anak yang paling bungsu (terakhir) dari hasil perkawinan ayahku Brookdjaja dengan ibuku Enden tadi.

Berarti ibuku Endens meninggal dunia karena melahirkan daku, Betapa sedih dan pilunya aku ditinggalkan ibuku, mengapa aku tidak dibawa pulang sekaligus tempat alam baka kembali asal untuk selama-lamanyabersama ibuku itu.

Kini aku hidup diasuhi oleh saudara-saudaraku dalam neraka dunia alam cuaca gelap gilita dari umur 3 hari sampai 3 bulan (90 hari) yang kakakku mengasuh atau menghuni kami berempat, setiap waktu detik siang dan malam tidak mengenal jerih payah untuk mengawasi kami beradik.

Nyata dan terasa jerih payah pahit getir neraka dunia alam terbuka pendekkan kata hidup menderita dan sengsara tak dapatlah dikesahkan. Kakak kami nama Taijah Talah) waktu itu sedang berumur 9 atau 10 tahun sambil mengasuh kami adik-adiknya turut juga menghuni ladang gunung kami yang ajuhnya dari rumah betang kira-kira perjalanan 1 1/2 jam baru sampai di pondok ladang kami dan aku digendong kakakku ke ladang. Kisah orang-orang kalau kakak turun kerja di ladang aku digantungkan ayunan di tengah-tengah ladang. Makananku waktu itu kakakku buat dari nasi ditumbuk halus-halus campur gula tebu dan dibungkusnya dengan daun pisang di pais dan disalai dipasang api.

Bilamana aku diberi makan dengan nasi pirik diatur olehnya 1 pais sehari makan 3 (4 kali sehari), selain dari nasi pirik, kami ada pelihara 3 ekor anjing yang amat sidik dan setia dengan tuan rumahnya yaitu nomor 1 nama Njanpun, nomor 2 nama Bura dan nomor 3 nama Tukan. Nyanpun dan Bura keduanya lelaki yang sangat bijaksana (matang) dan sangat cerdasnya, anjing kami bernama Tukan (anjing perempuan) sedang beranak juga 2 ekor anaknya serta keduanya sangat sehatnya. Melihat keadaan anak anjing sangat subu8rnya, kakak saya Taijah Tatah berfikir sekejap lalu dia periksa induk anjing (si Tukan) tadi tengah-tengah menyusukan kedua anaknya itu, lantas susu anjing kami nama Tukan tadi diperasnya masuk ke dalam botol yang sedang besarnya disumbat dengan pelaik yang lembut, pelaik diberi lubang halus-halus terus botol berisi susu anjing kami dipanaskan sedang (panas kuku) barulah dikasikkan padaku minum susu itu 3 kali sekali aku dikasih minum susu anjing kami, hingga badanku makin bertambah pula suburnya dan seterusnya.


Muhammad Hasan Brook (Part 1)

Ayahku bernama Brookdjaja, Brookdjaja bin gelar Raden Songo. Tempat kelahiran ayahku di Tumbang Pedjange didalam sungai Jahayan Kalimantan Timur Bandjarmasin.

Raden Songo bin Raden Pakualamdjajadipura Raden Songo dilahirkan di Kampung Tebah anak Sungai Kahayan Kalimantan Timur Bandjarmasin.

Raden Pakualamdjajadipura kabarnya berasal dari pulau Bali (Djawa) ia kaki tangannya waktu djaman Pemerintah Madjapahit di Pulau Borneo (Pulau Kalimantan) dan kawin dengan putri Kalimantan Timur Bandjarmasin bernama Intan Putri Tunggal.

Ayahku Brookdjaja kawin dengan ibuku bernama Endens, ibuku endens binti gelar Pangeran Puraij, lahirnya di Nanga Sukan daerah Pinoh Randen Kota Baru.

Muhammad Hasan Brook Lahir 15 Januari 1912 di Kampung Menakon dalam sungai Djangonoi anak sungai Ambalau Kecamatan Nanga Ambalau Melawi ulu Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat.

Tahun 1935 Kawin dengan Halimah binti Amat Djafar di Bengkayang, Halimah tersebut adalah anak angkat dari pak Amat Djafar tadi, dan yang sebenar Halimah itu adalah anak dari suku bangsa china dan namanya Liem Moi Tsa binti Liem Laeno Heng. Lahirnya 1914 di Peniti Besar daerah Pontianak warga negara Indonesia Provinsi Kalimantan Barat.




Ringkasan Riwayat Hidup

 Muhammad Hasan Brook


Muhammad Hasan Brook adalah anak ke lima dari Brook Djaja Enden
Lahir di Kampung Nanga Menakon

Riwayat Hidup

Tahun 1925 Tammat SD 6 tahun di Mampang Petamburan Tanabang Djakarta.
Tahun 1928 Tammat Sekolah Bahasa Belanda (Laher School Kelas V di Gang Paseban Djakarta)
Tahun 1932 Tammat Sekolah Perawat di CBZ Salemba Batavia Centrum Djakarta.
Tahun 1932 Tammat Sekolah Tehnis Spesialis Laboratorium Onderhoek di Djakarta.
Tahun 1931 Pernah turut kuliah Partij Politik Perintis Kemerdekaan Indonesia di Gedung Gang Pegangsaan 56 Djakarta (PNI) masuk anggota tersembunyi.
Tahun 1933 Berangkat dari CBZ Djakarta pindah ke rumah sakit Tuberculosis Ciserua (Sanatorium Tjiserua Bogor).
Tahun 1933 Kembali ke CBZ Djakarta dan kerja di rumah sakit CBZ Djakarta.
Tahun 1933 Berangkat dari CBZ Djakarta pindah ke RSU Singkawang dan diperintah oleh Tuan Dr Blumsina Dokter Kaptein Singkawang memimpin anak-anak (berling) di rumah sakit Singkawang merawat dari Laboratorium onderzuk ikut Tuan Dr Patroli keliling ke ulu abang, Tjap Kala, Bengkayang, Mempawah, Mentrado.
Tahun 1933 Berangkat dari RSU Singkawang pindah ke RS bengkayang merangkap ke Balai Pengobatan Sanggau Ledo (Singkawang II).


Part 6

Keesokan harinya akupun mulai belajar menjadi kusir bawa 2 ekor kuda yang menarik gerobak itu berkeliling kota seluruh ........... jalan di ...